Translate

Jumat, 21 Maret 2014

Kesembuhan Ilahi & Iman

KESEMBUHAN ILAHI & IMAN
(MEMBAHAS KETERKAITAN IMAN DALAM KESEMBUHAN ILAHI)
By: Astri K. Hermandes


PENDAHULUAN

Kesembuhan adalah suatu hal yang sangat diharapkan oleh setiap orang yang sedang berada dalam kondisi sakit, baik sakit secara mental, fisik, ataupun spiritual. Nampaknya kondisi sakit lebih menonjol dan bisa dirasakan serta dilihat secara nyata adalah sakit secara fisik. Sedangkan sakit secara mental dan spiritual terkadang masih sulit untuk dideteksi keberadaannya dan masih dalam dilematis untuk menyatakan kebenarannya. Oleh sebab itu pengharapan kesembuhan terbesar yang disadari seseorang berhubungan dengan hal tersebut adalah pengharapan kesembuhan tentang kesembuhafn fisik yang sedang sakit, padahal hal tersebut sesungguhnya penting tetapi tidak terlalu penting dibandingkan dengan kesembuhan secara mental dan spiritual.
Gereja – gereja tertentu mempunyai konsep bahwa gereja yang mempunyai Roh Kudus adalah gereja yang dapat melakukan perkara – perkara mujizati, salah satunya adalah penyembuhan. Dari pandangan tersebut muncul sebuah ritual – ritual penyembuhan Ilahi (KKR Kesembuhan Ilahi) dengan tahapan – tahapan, cara – cara, dan alat – alat tertentu dalam tubuh gereja agar terjadi manifestasi kerja Roh Kudus dalam bentuk kesembuhan yang  mengatasnamakan kesembuhan Ilahi dan gereja yang dipenuhi Roh Kudus. Gereja - gereja ini percaya bahwa pada masa sekarang penyembuhan Ilahi masih berlangsung sama seperti pada zaman Yesus dan para rasul dan bahkan ajaran ini menganggap orang Kristen dapat melakukan hal yang lebih besar dari yang dilakukan oleh Yesus. Oleh sebab itu, hari – hari ini marak dijumpai bahwa gereja – gereja tertentu melaksanakan ritual kesembuhan Ilahi dan jika praktik kesembuhan Ilahi tersebut gagal, maka akan diberikan beberapa kemungkinan penyebabnya, yaitu yang salah satunya karena kurangnya iman atau kepercayaan.
Klaim mengenahi praktik kesembuhan Ilahi yang gagal dikarenakan kemungkinan – kemungkinan tertentu, salah satunya kurang atau tidak adanya iman menjadi sebuah perdebatan yang tak kunjung henti. Oleh sebab itu hal tersebut menjadi pokok bahasan yang akan dibahas dalam paper ini. Paper ini akan menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan kesembuhan Ilahi dan Iman, yaitu apakah Iman menentukan kesembuhan Ilahi dan apa relasi diantara kesembuhan dan Iman. 

ISI

A.    Kesembuhan Ilahi
Kesembuhan Ilahi adalah kesembuhan atas prakarsa Ilahi yang termanifestasi dalam kehidupan manusia secara nyata, bukan kesembuhan secara normal tetapi kesembuhan secara supranatural. Bagi gereja – gereja tertentu yang mempunyai konsep bahwa gereja yang dipenuhi Roh Kudus adalah gereja yang mampu mengadakan perkara – perkara mujizati, salah satunya adalah perkara kesembuhan mengadakan ritual – ritual kesembuhan Ilahi karena mereka memandang bahwa kesembuhan Ilahi adalah sesuatu yang penting dan harus terjadi dalam kehidupan bergereja untuk menandakan bahwa gereja tersebut adalah gereja yang disertai Allah, untuk menunjukkan bahwa gereja tersebut adalah gereja yang dipenuhi oleh kuasa Roh Kudus, sehingga mujizat – mujizat harus terjadi.
Salah satu ajaran yang menonjol dari gereja yang mengadakan ritual – ritual kesembuhan Ilahi adalah dari Markus 16:17, Kis 2: 1-24 mengenahi janji kuasa mukjizat Tuhan yang akan menyertai murid-murid-Nya. Gereja - gereja ini percaya bahwa pada masa sekarang penyembuhan Ilahi masih berlangsung sama seperti pada zaman Yesus dan para rasul (Mat. 9:35; 2 Kor. 12:12.17 Ajaran ini menaruh perhatian khusus terhadap kuasa dan tanda-tanda mukjizat yang Yesus lakukan (Mat. 10:8), bahkan ajaran ini menganggap orang Kristen dapat melakukan hal yang lebih besar dari yang dilakukan oleh Yesus (Yoh. 14:12).[1] Oleh sebab itu, hari – hari ini sangat marak dijumpai berbagai program tentang ritual kesembuhan Ilahi diberbagai gereja yang memegang dasar tersebut dan jika praktik kesembuhan Ilahi tersebut gagal, maka akan diberikan beberapa kemungkinan penyebabnya, yaitu yang salah satunya karena kurangnya iman atau kepercayaan.
Namun nampaknya apa yang dilakukan oleh gereja – gereja tertentu yang meyakini bahwa kesembuhan Ilahi harus terjadi pada kehidupan bergereja sebagai bukti bahwa Allah ada, sebagai bukti bahwa kuasa Roh Kudus bekerja tidak selalu membawa kepada keberhasilan dalam praktik kesembuhan ini. Apakah hal tersebut akhirnya bisa dikatakan bahwa karena tidak ada kesembuhan, berarti Allah tidak ada dalam gereja tersebut karena tidak ada karya Roh Kudus yang termanifestasi?.  Suatu pembelaan yang sangat rohani yang dinyatakan dalam hal ini, yaitu jika kesembuhan Ilahi tidak terjadi adalah bahwa  kesembuhan Ilahi tidak terjadi karena kurangnya iman atau kepercayaan.
Pemahaman bahwa  kesembuhan Ilahi tidak terjadi karena kurangnya iman atau kepercayaan membawa kepada suatu ekstrim yang sesungguhnya hal ini sangat meremehkan cara kerja Allah, yaitu seolah - olah karya Allah dibatasi oleh iman yang dimiliki manusia. Kesembuhan Ilahi adalah kesembuhan yang berasal dari Allah, yaitu Allah yang bekerja sepenuhnya untuk mengadakan kesembuhan, tidak ada campur tangan atau usaha manusia. Cara – cara yang dipakai manusia supaya terjadi kesembuhan ilahi, seperti doa, iman, dsb tidak akan bisa menggerakkan kuasa Allah untuk mengadakan kesembuhan. Allah bertindak bukan karena kehendak manusia atau permohonan manusia, tetapi Allah bertindak sesuai dengan agenda Allah sendiri dan kehendakNya.  
B.     Iman
Keberadaan iman membuktikan membuktikan keberadaan Roh Kudus karena Iman adalah karya Roh Kudus, yaitu karya yang memampukan seseorang percaya. Keberadaan Roh Kudus didalam hati seseorang menimbulkan iman, orang – orang yang mempunyai iman ini dikatakan orang beriman. Jadi cara kerja Roh Kudus dan iman adalah bersama – sama (simultan), ada iman pasti ada Roh Kudus, dan sebaliknya ada Roh Kudus pasti juga ada iman. Iman.muncul karena Roh Kudus bekerja dalam hati manusia, tidak bisa diusahakan oleh diri manusia sendiri. Setiap orang yang didiami Roh Kudus, Roh Kudus bekerja didalam dirinya yang menjadikan dia beriman, dialah orang yang beriman dan dialah orang yang diselamatkan. Allah bekerja didalam diri manusia yang diselamatkan secara simultan, tidak ada kronologi atau tahapan – tahapan tertentu dalam karya Allah ini.
Iman adalah karya Roh Kudus didalam hati orang yang diselamatkan, yaitu kemampuan untuk percaya bahwa Allah sanggup berbuat secara ajaib pada suatu waktu dan untuk keperluan tertentu[2]. Iman merupakan sebuah anugrah Allah yang terutama berhubungan dengan keselamatan, yang merupakan prakarsa Roh Kudus yang tidak bisa terjadi atas usaha manusia. Tidak seorangpun yang mampu menyelamatkan diri dari murka Allah atas dosa – dosanya selain dari pada percaya kepada Yesus, yaitu beriman kepada Yesus yang memberi keselamatan.
Dijelaskan dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, didalam PL kata ‘iman”[3] hanya dua kali yakni dalam Ulangan 32:20. Walaupun hanya muncul dua kali, tetapi ini tidak berarti bahwa gagasan iman tidak penting, banyak istilah lain, misalnya dalam bahasa Ibrani “batakh”, yang dalam Alkitab terjemahan baru Indonesia biasanya diterjemahkan dengan kata “percaya”. Iman menurut PL adalah mengandalkan Tuhan dengan sepenuh hati. Masyarakat dalam PL menganggap Tuhan satu-satunya yang layak menjadi andalan. Mereka tidak mengandalkan sesuatu apa pun yang mereka lakukan, atau yang dilakukan oleh orang lain, atau yang dilakukan oleh ilah-ilah lain. Andalan atau yang diharapkan oleh mereka hanya Tuhan. Kadang-kadang mengenahi Iman kepada Tuhan diungkapkan dengan kiasan; “Dia-lah bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Allah-ku, gunung batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Allah-ku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku” (Mazmur 18:1-2).
Sedangkan dalam PB, secara umum didalam PB tekanan yang diberikan kepada iman harus dilihat dengan latar belakang karya penyelamatan Allah dalam Kristus. Yang menjadi inti PB ialah gagasan Allah mengutus AnakNya menjadi Juruselamat dunia. Kristus beroleh penyelamatan manusia dengan mengalami kematian yang mendamaikan manusia dengan Allah di salib-Nya. Iman ialah sikap yang di dalamnya seseorang melepaskan andalan pada segala usahanya sendiri untuk mendapat keselamatan, entah itu kebajikan, kebaikan susila atau apa saja, kemudian sepenuhnya mengandalkan Yesus Kristus, dan mengharap hanya dari Dia segala sesuatu yang dimaksud oleh “keselamatan”. Iman ialah satu-satunya jalan, melalui mana manusia beroleh keselamatan.
Secara khusus dalam Injil-injil Sinoptik iman sering dihubungkan dengan penyembuhan. Yesus berkata kepada perempuan yang menjamah jubah-Nya di tengah-tengah orang banyak; “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau” (Mat 9:20). Tapi iman dalam arti yang lebih luas dilukiskan juga dalam Injil-injil ini. Markus mencatat perkataan Yesus, “Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” (Mrk 9:23). Begitu juga Dia berkata bahwa seseorang akan melakukan pekerjaan besar, sekiranya mempunyai iman kendati hanya sebesar biji sesawi (Mat 17:20, Luk 17:6).
Iman jelas merupakan salah satu konsepsi penting dalam seluruh PB. Di mana-mana iman dituntut dan keutamaannya ditekankan. Iman membuang segala kepercayaan pada sumber-sumber kekuatan sendiri. Iman berarti pasrah menyerahkan diri sendiri tanpa syarat kepada rahmat Allah. Iman berarti memegang teguh janji Allah di dalam Kristus dengan memautkan seluruh kepercayaan kepada karya Kristus yang genap seutuhnya demi keselamatan dan kepada kekuasaan Roh Kudus demi kekuatan sehari-hari. Iman mencakup kepercayaan yg utuh dan ketaatan mutlak kepada Allah.

C.    Kesembuhan Ilahi dan Iman.
C.1. Kesembuhan Ilahi Menunjukkan Iman.
Terjadinya kesembuhan secara Ilahi menunjukkan adanya iman, dimana dalam hal tersebut Roh Kudus yang menjadi pemrakarsa munculnya iman bekerja memberi pertolongan kesembuhan kepada orang yang sedang mengalami sakit atau penderitaan. Namun, ketidak adaannya kesembuhan bukan berarti menunjukkan ketidak adaannya iman. Iman tidak selalu akan berwujud pada kesembuhan.
 Kesembuhan Ilahi adalah bersifat Theosentris, yaitu berpusat kepada Allah yang menjadi pemrakarsa kesembuhan tersebut, bukan anthroposentris, yaitu berpusat pada diri manusia. Namun realita pada masa kini, gereja – gereja tertentu yang mempraktikkan ritual – ritual kesembuhan Ilahi (KKR Kesembuhan Ilahi) nampaknya telah salah dalam memahami apa sesungguhnya kesembuhan Ilahi tersebut, dengan demikian akhirnya praktik kesembuhan Ilahi sangat bersifat anthroposentri (berpusat pada manusia) yang menekankan usaha manusia lebih besar dari pada berharap kepada anugrah Allah semata. Mereka menganggap bahwa Iman sangat menentukan terjadinya sebuah kesembuhan Ilahi. Mereka menganggap bahwa Iman mampu mempengaruhi Allah yang maha kuasa sehingga mengulurkan tanganNya untuk suatu perwujudan kesembuhan Ilahi.
Dalam hal kesembuhan ilahi, gereja - gereja yang mempraktikkan ritual – ritual kesembuhan Ilahi dengan tahapan – tahapan, cara – cara, dan alat – alat tertentu merumuskan definisi tentang kesembuhan Ilahi sebagai berikut:
Manifestasi kuasa Roh Kudus yang menyembuhkan setiap orang sakit yang dengan segenap hati percaya dalam korban gafirat (tubuh dan darah Yesus) Tuhan Yesus diatas kayu salib. Mujizat Allah semata – mata berdasarkan anugrahNya untuk menetapkan kebenaran FirmanNya tentang keselamatan yang sempurna didalam Kristus (keselamatan untuk tubuh, jiwa, dan roh).[4]

Melihat definisi diatas, jika dikatakan bahwa “kuasa Roh Kudus menyembuhkan setiap orang sakit yang dengan segenap hati percaya...”, maka dalam hal ini bisa diartikan bahwa melalui percaya itu, kesembuhan terjadi. Dalam hal ini menunjukkan bahwa kesembuhan ilahi bersifat sangat anthroposentris karena memusatkan diri pada kepercayaan manusia.
Memahami sesuatu kata atau istilah dalam Alkitab harus bersifat tepat dan utuh sebab kekeliruan di dalam memformulasikannya dapat berakibat pada pemahaman dan penerapan yang salah. Seperti yang dikatakan Gross; “An accurate definition of the term, then, is a matter of primary concern. Wrong definitions lead to wrong conclusions.”[5] Hal ini berarti apa yang kita rumuskan akan sangat mempengaruhi pemahaman kita akan suatu hal, dan akan berdampak pada praktik – praktik secara nyata. Oleh sebab itu kita perlu jeli terlebih dahulu memahami apakah sesungguhnya arti dan makna dari sesuatu yang kita cari tersebut. Pemahaman dan penerapan dari kesembuhan ilahi yang tidak tepat oleh gereja – gereja yang mengadakan ritual – ritual kesembuhan ilahi dengan tahapan – tahapan, cara – cara, dan alat – alat tertentu akan membawa kepada suatu jalan kesesatan. Hal ini sangat membahayakan bagi gereja sendiri.
Kesembuhan Ilahi yang Alkitabiah adalah kesembuhan Ilahi yang berpusatkan pada Allah (theosentris), bukan pada cara – cara manusia. Bahkan iman juga tidak dapat menimbulkan kesembuhan Ilahi. kesembuhan Ilahi terjadi hanya atas seijin Allah saja, atas kehendak Allah saja. Oleh sebab itu hendaknya kita mempraktikkan sesuatu yang benar yang sesuai dengan ajaran Alkitab. Kehendak Allah menjadi suatu faktor yang sangat menentukan terjadinya kesembuhan Ilahi Kesembuhan Ilahi hanyalah atas kehendak Allah saja. Didalam Alkitab, ada beberapa ayat yang mengindikasikan bahwa kesembuhan Ilahi itu merupakan kehendak Allah, seperti dalam 1 Yohanes 5:14 yang didalamnya menuliskan bahwa jika kita meminta sesuatu menurut kehendak-Nya maka Ia akan mengabulkan doa kita. Dari ayat tersebut terlihat jelas bahwa jika sesuai dengan kehendakNya maka kesembuhan tersebut terjadi. Kehendak Allah menjadi suatu faktor yang sangat menentukan terjadinya kesembuhan Ilahi.


C.2. Iman Tidak Menentukan Kesembuhan
Iman tidak menentukan munculnya kesembuhan Ilahi karena Iman bukanlah istrumen kesembuhan ilahi, iman adalah perwujudan adanya karya Roh Kudus dalam diri orang beriman tersebut. Iman dan kesembuhan adalah sama – sama anugrah, jadi dalam hal ini iman dan kesembuhan mempunyai kesejajarah, yaitu karya Allah sendiri, anugrah Allah. Kesembuhan Ilahi adalah hanya karena anugrah Allah saja yang tidak memerlukan istrumen apapun .
Kehendak Allah menjadi suatu faktor yang sangat menentukan terjadinya kesembuhan Ilahi. Kesembuhan Ilahi hanyalah atas kehendak dan anugrah Allah saja. Didalam Alkitab, ada beberapa ayat yang mengindikasikan bahwa kesembuhan Ilahi itu merupakan kehendak Allah, seperti dalam 1 Yohanes 5:14 yang didalamnya menuliskan bahwa jika kita meminta sesuatu menurut kehendak-Nya maka Ia akan mengabulkan doa kita. Dari ayat tersebut terlihat jelas bahwa jika sesuai dengan kehendakNya, bukan sesuai dengan kehendak manusia. Jadi dalam bagian ini doa tidak mengubah kehendak Allah, tetapi kehendak Allah sudah terlebih dahulu ada yaitu yang menentukan seseorang bisa sembuh atau tidak. Jadi Iman bukan faktor terjadinya penyembuhan ilahi tetapi kehendak Allah yang menjadi suatu faktor yang sangat menentukan terjadinya kesembuhan Ilahi.

D.    Tanggapan
Kesembuhan ilahi adalah fakta yang dapat dikerjakan Allah bagi anak-anak-Nya. Namun “kesembuhan Ilahi” yang bisa terjadi tidak boleh menjadi acuan bahwa kesembuhan ilahi “pasti” selalu terjadi dan menunnjukkan adanya Iman. Fenomena kesembuhan ilahi yang terjadi pada masa kini adalah tanda penyertaan Allah yang dapat terjadi sesekali saja. Kesembuhan ilahi adalah anugrah Allah saja dan terjadi atas kehendak Allah saja dan hanya merupakan bagian dari janji berkat penyertaan Allah.
Praktik kesembuhan Ilahi pada gereja – gereja tertentu pada masa kini yang mempunyai konsep bahwa gereja yang mempunyai Roh Kudus adalah gereja yang dapat melakukan perkara – perkara mujizati, salah satunya adalah penyembuhan adalah kurang Alkitabiah. Memang dalam PB tercatat sangat banyak mengenahi kesembuhan yang dilakukan oleh Yesus dan murid – muridNya, pada konteks masa kini kesembuhan Ilahi masih kemungkinan terjadi karena kuasa Allah tidak bisa dibatasi dengan waktu atau tindakkan manusia. Namun kesembuhan Ilahi tidak akan terjadi secara intensif seperti terjadi pada zaman PB.  Pada saat ini dimana semua penyataan Allah tentang keselamatan melalui Yesus telah digenapi dan telah tercatat cukup dalam Alkitab, maka kuasa kesembuhan Ilahi tidak lagi menjadi suatu konsentrasi Allah untuk menyatakan kemahakuasaanNya atau keberadaanNya. Kesembuhan Ilahi pada masa adalah penyataan Allah atas penyertaanNya kepada umatNya.
Namun mengenahi kesembuhan Ilahi tidak disangkali bahwa hal tersebut masih kemungkinan bisa terjadi karena Allah masih berkuasa dan mampu melakukan kesembuhan Ilahi pada saat kapanpun dan dimanapun, seperti ditegaskan oleh Walter Chantry;[6]
And there is no Biblical reason to limit God to performing miracles at certain seasons only. No doubt God is yet executing unusual feasts of power. In response to the prayers of his people, God is healing in sovereign power some whom modern medicine has pronounced hopeless…. God’s working of wonders cannot be limited to ages past.

Pandangan di atas, mengisyaratkan bahwa Allah masih melakukan kesembuhan Ilahi, namun tidak seperti pada zaman PB. Atau, bahkan, tidak bersifat permanen seperti yang diajarkan oleh gereja – gereja tertentu yang melakukan ritual – ritual kesembuhan Ilahi dengan tahapan – tahapan, cara – cara, dan alat – alat tertentu. Jika gereja yang melakukan praktik ritual – ritual penyembuhan ilahi dengan tahapan – tahapan, cara – cara, dan alat – alat tertentu dengan tujuan untuk menyatakan keberadaan kuasa Allah yang bersifat intensif dan permanen sesungguhnya hal tersebut tidak tepat. Gereja – gereja yang  melakukan praktik ritual – ritual penyembuhan ilahi dengan tahapan – tahapan, cara – cara, dan alat – alat tertentu sebagai suatu mandat Allah seperti yang dilakukan Yesus adalah keliru karena kesembuhan yang dilakukan oleh Yesus adalah untuk membuktikan keilahian-Nya, sebagai Anak Allah dan Mesias yang dijanjikan Allah. Yesus tidak mengutamakan mukjizat kesembuhan, melainkan memakainya untuk mengkonfirmasi injil Kerajaan Allah (Mat 9:35; 11:1; Mrk. 1:14-15).
Fenomena spektakuler pada saat pencurahan Roh Kudus di hari Pentakosta terjadi hanya satu kali saja. Peristiwa fenomenal tersebut merupakan pengalaman gereja yang unik saat permulaan pekerjaan Roh Kudus, dan tidak akan terulang lagi (Kis. 2:1-13). Macam-macam karunia Roh Kudus telah dicurahkan kepada para rasul yang dipilih oleh Tuhan menjadi saluran atau alat untuk pertumbuhan gereja mula-mula, mulai dari Yerusalem sampai ke ujung bumi (Kis. 1:8).
Akhirnya dalam bagian ini ditekankan bahwa sesungguhnya kesembuhan Ilahi hanya karena anugrah Allah saja, kesembuhan Ilahi hanya karya Allah saja dan tidak bisa dengan campur tangan manusia. Iman yang dimiliki manusia tidak bisa menentukan terjadinya kesembuhan secara Ilahi, namun kesembuhan secara Ilahi bisa membuktikan adanya Iman.
Sebagai gereja Tuhan masa kini hendaknya kita memandang segala sesuatu dengan berfokus kepada kebenaran yang hakiki dan mengejar sesuatu yang tidak bersifat duniawi. Gereja yang dengan demikian rupa mengupayakan terjadinya kesembuhan fisik secara Ilahi untuk menunjukkan kuasa Roh Kudus ada ditengah – tengah mereka merupakan hal – hal sesungguhnya bukan menjadi kebutuhan yyang esensi pada diri manusia yang paling sesensi dan  terpenting adalah keselamatan jiwa bukan kesembuhan secara fisik. Mengejar sesuatu untuk menunjukkan kuasa Allah dan menyelamatkan hanya fisik saja sesungguhnya hal yang timpang. Doa memohon kesembuhan ilahi tidak salah untuk dilakukan karena hal ini merupakan bagian pelayanan gereja bagi anggota jemaat yang sakit. Paulus juga pernah melakukan pelayanan kesembuhan, misalnya ketika melayani Trofimus ditinggalkan dalam keadaan sakit, ketika Paulus sendiri mengalami sakit tubuh (2 Tim 4:20). Namun dalam hal ini, sembuh atau tidak bukan hal yang terpenting, tetapi yang terpenting adalah keselamatan rohani atau jiwa seseorang.

KESIMPULAN

Kesembuhan Ilahi adalah karya Allah yang masih bisa terjadi pada kehidupan gereja masa kini. Karya Allah tidak bisa dibatasi oleh waktu, tindakan, atau kehendak manusia, tetapi karya Allah terjadi atas kehendak Allah sendiri sesuai dengan maksud dan rencanaNya. Namun kesembuhan Ilahi tidak akan terjadi secara intensif dan permanen seperti yang tercatat dalam PB, yaitu kisah – kisah kesembuhan Ilahi yang dilakukan Yesus dan murid – muridNya. Kesembuhan Ilahi pada saat ini bisa kemungkinan terjadi atas kehendak dan seijin Allah bagi umatNya sebagai tanda penyertaan Allah, namun tidak “pasti” terjadi dan tidak akan selalu terjadi.
Konsep gereja tertentu mengenahi terjadinya kesembuhan Ilahi yang mengatakan bahwa kesembuhan Ilahi dikarenakan iman dan seberapa besar Iman adalah hal yang tidak Alkitabiah. Kesembuhan Ilahi tidak ditentukan adannya Iman atau seberapa besar Iman seseorang. Kesembuhan Ilahi bersifat theosentris, yaitu terjadi atas prakarsa Ilahi yang termanifestasi dalam kehidupan manusia secara nyata, bukan bersifat anthroposentri, yaitu bergantung pada campur tangan manusia, termasuk iman. Iman tidak menentukan terjadinya kesembuhan Ilahi tetapi kesembuhan Ilahi menunjukkan adanya Iman.
Kehendak Allah menjadi suatu faktor utama penentu terjadinya kesembuhan Ilahi. Kesembuhan Ilahi hanyalah atas anugrah Allah saja. Terjadinya kesembuhan secara Ilahi menunjukkan bahwa Roh Kudus yang menjadi pemrakarsa munculnya iman bekerja memberi pertolongan kesembuhan kepada orang yang sedang mengalami sakit atau penderitaan. Jadi pemeran utama dalam kesembuhan Ilahi adalah Roh Kudus bukan iman yang diprakarsai oleh Roh Kudus. Jika mempunyai konsep bahwa Iman dijadikan sebagai patokan terjadinya kesembuhan Ilahi, maka nyata bahwa dalam hal ini Allah dibatasi dengan Iman seseorang, padahal iman adalah karya Allah dan sama dengan kesembuhan Ilahi yang merupakan karya Allah. Jadi Iman dan kesembuhan Ilahi adalah sejajar karena sama – sama merupakan karya Allah, namun pengimplementasian keduanya berbeda.










[1] Gross, Miracles, Demons and Spiritual Warfare, dalam Alex Lim, Jurnal Veritas (Malang: SAAT, Oktober 2008),10.

[2] Ichwei Indra, Teologi Sistematis, (Bandung: Lembaga Literatur Baptis, 2010), 197.
[3] Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, Iman, (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2008), 430.
[4] H.L.Senduk, Karunia – Karunia Rohul Kudus, (Jakarta: Yayasan Bethel), 1.
[5] Ibid. Alex Lim, 11.
[6] Walter Chatry, Signs of the Apostles,  (Edinburgh: Banner of Truth, 1979), 8. 

Baptisan Anak Menurut Pandangan Reformed

BAPTISAN ANAK MENERUT PANDANGAN REFORMED
By: Astri Kristiani

PENDAHULUAN

Baptisan merupakan salah satu sakramen yang dilaksanakan oleh seluruh gereja disepanjang sejarah gereja. Walaupun seluruh gereja melaksanakan sakramen baptisan, tetapi didalam  setiap warna gereja mempunyai pandangan yang berbeda – beda mengenahi sakramen baptisan. Pandangan yang berbeda – beda tersebut salah satu contohnya adalah pandangan mengenahi siapakah yang bisa dibaptiskan, hanya orang dewasa yang bisa mengakui Iman mereka atau anak – anak maupun orang dewasa yang bisa dibaptiskan.
Secara khusus mengenahi baptisan kepada anak – anak menjadi suatu perdebatan antara gereja – gereja yang melaksanakan baptisan anak dengan gereja yang menolak melaksanakan baptisan anak. Masing – masing gereja, baik yang melaksanakan maupun yang menolak melaksanakan baptisan anak mempunyai argumen masing – masing yang kuat. Didalam pengajaran teologi Reform, sakramen baptisan anak dilaksanakan karena hal ini dikaitkan dengan konsep teologi kovenan (teologi perjanjian), yaitu bahwa anak – anak adalah merupakan anggota dalam kerajaan Allah walaupun mereka belum bisa mengungkapkan iman mereka secara personal karena mereka sudah terikat dalam perjanjian Allah. Konsep ini dipegang oleh gereja yang mempercayai bahwa anak – anak dari orang – orang percaya yang telah mendapatkan perjanjian yang sama dengan orang tuanya yang percaya bahwa mereka akan mendapatkan bagian dalam  dalam keselamatan yang dijanjikan Allah kepada Abraham dan seluruh keturunannya. Namun dalam konsep teologi lain memandang bahwa baptisan anak merupakan baptisan yang tidak beraturan dan baptisan kepada anak – anak dipandang sebagai paksaan untuk percaya kepada iman orangtuanya secara tidak langsung karena anak – anak belum mengerti sesungguhnya apa itu iman.
Dalam paper ini akan membahas khusus mengenahi pengajaran teologi reform tentang baptisan anak secara lebih luas tetapi terbatas dan tanggapan terhadapnya dilihat dari sudut pandang dimana ada pertentangan mengenahi pengajaran baptisan anak.


ISI

A.    Definisi
Sebelum lebih jauh mendiskripsikan tentang sakramen baptisan, perlu diketahui terlebih dahulu apa sesungguhnya yang dimaksud dengan sakramen. Menurut ajaran teologi reform, sakramen didefinisikan sebagai berikut:
Suatu tanda dan materai yang ditentukan Tuhan Allah untuk menandakan dan memateraikan janji – janjiNya di dalam Injil, yaitu bahwa karena korban Kristus kita orang beriman mendapatkan keampunan dosa dan hidup yang kekal[1].

Dari definisi tentang sakramen diatas, terdapat dua kata kunci dari sakramen itu sendiri, yaitu bahwa sakramen adalah “tanda” dan “materai”. Arti dari dua kata kunci yang menunjukkan definisi sakramen tersebut adalah sebagai berikut:[2]
Tanda         :    Yang dimaksudkan dengan tanda adalah bahwa apa yang diwujudkan didalam sakramen itu menunjuk pada perkara yang lain atau dengan kata lain bahwa sakramen adalah menggambarkan atau mengibaratkan perkara yang lain. Yang digambarkan atau diibaratkan didalam sakramen adalah janji – janji Allah yang disebutkan didalam Injil, yaitu bahwa karena korban Kristus dikayu salib, orang yang beriman, mendapat keampunan dosa dan hidup yang kekal.
Materai       :    Suatu yang dipakai untuk meneguhkan atau untuk menyatakan kemurniannya sehingga dapat dipercaya.
Jadi dari penjabaran arti tentang sakramen diatas bisa disimpulkan bahwa sakramen adalah suatu tanda lahiriah yang dipakai sebagai alat Tuhan untuk meneguhkan janji – janjiNya kepada umatNya.
Sedangkan yang dimaksud dengan “baptisan” adalah berarti “menyelupkan”[3] atau “memasukkan”. Jadi dihubungkan dengan definisi sakramen yang telah dijabarkan maka didapatkan arti dari sakramen baptisan adalah suatu tindakan untuk memberikan tanda dan materai bahwa seseorang diselupkan atau dimasukkan didalam nama Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus untuk bisa masuk dalam karya penyelamatan Allah Tritunggal. Secara ringkas pelaksanaan sakramen baptisan ditujukan agar seseorang yang mendapatkan baptisan dipersatukan dengan Kristus dan bagian – bagian tubuhNya.
 
B.     Dasar Alkitabiah Tentang Baptisan Anak
Teologi reformed memandang bahwa baptisan anak adalah baptisan yang Alkitabiah dan bisa dilaksanakan dalam sakramen gereja. Dalam teologi ini memandang bahwa baptisan anak – anak adalah baptisan yang bisa dilakukan karena berhubungan dengan perjanjian kekal yang diberikan Allah kepada umatNya. Teologi reformed mengajarkan tentang baptisan anak dengan dasar – dasar pemahaman mengenahi baptisan sebagai berikut:
B.1. Baptisan merupakan sebuah tanda dan materai perjanjian
Baptisan harus dilihat sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari rencana penyelamatan Ilahi dimana Allah memberikan janji keselamatan bagi umatNya dan keturunan umatNya. Baptisan merupakan suatu tanda dan materai perjanjian antara Allah dengan UmatNya dan keturunan umatNya. Baptisan mempunyai hubungan yang sangat erat dengan perjanjian Agung Allah yang ada dalam PL, yaitu perjanjian Allah dengan Abraham.
Perjanjian Allah terhadap Abraham merupakan sebuah perjanjian spiritual, maksudnya adalah ketika Allah mengadakan perjanjian terhadap Abraham seperti yang tercatat dalam Kejadian 17: 7 dengan mengatakan bahwa; “Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu”. Pada saat itu Allah perjanjian Allah denga Abraham dimateraikan dengan sunat, dan Allah memerintahkan Abraham untuk mensunatkan anak – anak pada usia delapan hari untuk dikuduskan  dari dunia ini sebagai orang yang berbagian dalam seluruh berkat perjanjian Abraham[4].
Perjanjian Abraham didalam PL yang ditandai dan dimateraikan dengan sunat secara lahiriah telah digenapi dalam PB oleh Yesus Kristus dengan sunat secara rohani. Dalam ajaran PB ada dua garis mengenahi sunat. Pertama adalah makna rohani dimana Paulus  dalam Kolose 2:13 menyamakan kematian dalam pelanggaran-pelanggaran dengan keadaan tidak bersunat, yaitu tanpa pengetahuan akan karya pembaharuan Allah. Abraham telah dihidupkan Allah masuk ke dalam hidup baru yang telah dijanjikan Allah dan menjadi manusia baru (Kejadian 17). Namun didalam PB juga berkata mengenahi hal – hal yang mengarah pada sunat, namun dengan pengertian yang baru dimana Paulus berkata bahwa orang Kristen yang mengenal karya Allah yang menghidupkan oleh Roh Kudus, adalah sunat itu, yaitu sunat yang telah dipenuhi oleh Yesus Kristus. Kedua adalah makna sunat dalam perjanjian Abraham mempunyai makna yang sama dengan makna baptisan bagi orang Kristen. Hal itu tersirat dalam penggunaan kata “meterai”. Dalam Roma 4:11 sunat disebut meterai, dan dalam 2 Kor 1:21, 22 dan Efesus 1:13 kata yang sama mungkin menunjuk pada baptisan, suatu tafsiran berdasarkan kata “diurapi” dalam 2 Kor 1:21 dan atas urutan kata “mendengarkan”, “percaya”, dan “dimeteraikan” dalam Efesus 1:13; “mendengarkan...menjadi percaya dan dibaptis”.
Hubungan antara sunat dan baptisan diterangkan secara khusus dalam Kolose 2:11,12. Orang Kristen menerima kenyataan yang digambarkan oleh sunat. Kenyataan ini disebut “sunat dalam Dia”, yang dimaksud dengan “sunat didalam Dia” adalah sunat yang bersifat rohani, yaitu sunat yang dilakukan bukan dengan tangan dan buahnya menyeluruh, mengenai tubuh dan daging. Sunat secara rohani tersebut terjadi dengan baptisan, yaitu yang membawa mereka ke dalam hubungan yang hidup dengan kematian dan kebangkitan Kristus yang diterima oleh kepercayaan kepada kerja kuasa Allah. Dengan demikian, bisa dikatakan pula bahwa baptisan adalah pintu masuk ke dalam perjanjian dan diajarkan sedemikian rupa untuk menyatakan kesatuan perbuatan-perbuatan Allah dalam perjanjian-Nya.
Perjanjian Allah dengan Abraham merupakan perjanjian dalam masa PL yang ditandai dan dimateraikan dengan sunat secara lahiriah, namun karena sunat telah digenapi oleh Yesus Kristus secara rohani, maka pada masa PB sunat diganti dengan baptisan. Perjanjian Allah dengan Abraham adalah kekal (Kejadian 17:7) hal tersebut menunjukkan bahwa perjanjian tersebut tidak pernah berhenti dan akan terus berlanjut pada semua keturunannya. Keturunan yang dimaksudkan dalam Perjanjian Lama adalah keturunan secara natural, karena pada saat itu ditandai dengan sunat yang secara lahiriah. Namun didalam Perjanjian Baru seperti yang disampaikan Rasul Pulus dalam Galatia pasal 3 yang menyebutkan bahwa orang – orang yang percaya kepada Kristus sesungguhnya merupakan bagian dari keturunan Abraham, yang dimaksud dalam hal ini adalah keturuan secara spiritual dan merupakan bagian dari keturunan yang berhak mendapatkan janji Allah, dan dalam Perjanjian Baru perjanjian ini ditandai dan dimateraikan dengan baptisan.
Jadi dalam hal ini nampak bahwa perjanjian Allah dengan Abraham merupakan perjanjian yang berlaku tidak hanya kepada Abraham secara pribadi dan keturunannya secara lahirian tetapi juga kepada keturunannya secara rohani, yaitu dalam Perjanjian Baru disebutkan sebagai orang – orang yang percaya kepada Kristus. Jadi dalam hal ini juga berlaku pada Perjanjian Baru bahwa perjanjian Allah yang diberikan kepada orang – orang percaya juga tidak berlaku kepada dirinya sendiri tetapi juga keturunannya selama keturunannya belum bisa mengakui dengan sadar akan kepercayaannya, tetapi melalui iman kedua orang tuanya mereka juga mendapatkan bagian yang sama dalam perjanjian Allah.



B.2. Baptisan Merupakan Pernyataan Dasar Pengakuan Iman
Maksud dari pernyataan dasar dari pengakuan Iman adalah bahwa anak – anak dari orang tua yang percaya mendapatkan hak yang sama untuk dibaptiskan dan dimateraikan dengan tanda dari perjanjian anatara Allah dengan umatNya, sebagaimana dulu anak – anak Israel disunat untuk janji yang sama yang dibuat untuk anak  - anak. Didalam Katekismus Heidelberg minggu ke 27, yaitu menjawab tentang apakah anak – anak kecil harus dibabtiskan jawabnya adalah sebagai berikut:
“Ya, oleh karena seperti orang-orang dewasa, mereka juga termasuk ke dalam perjanjian Allah dan menjadi anggota jemaatNya (Kej 17:7), dan oleh karena seperti kepada orang dewasa (Kis 2:39) dijanjikan pula kepada mereka penebusan dari dosa oleh darah Kristus serta Roh Kudus yang menimbulkan iman dalam hati mereka (Mat 19:14), maka atas dasar baptisan, yaitu perjanjian itu, mereka juga harus dimasukkan dalam Gereja Kristen, dan dibedakan dari anak-anak orang yang tidak percaya (Kis 10:47), sebagaimana dilakukan dalam Perjanjian Lama atas dasar penyunatan (Kej 17:12,13), yang dalam Perjanjian Baru diganti dengan baptisan (Kol 2:11-13).”[5]

Dari kutipan diatas dapat dimengerti bahwa baptisan terhadap anak – anak merupakan cara dimana anak – anak dari orang – orang percaya atau yang telah diserahkan untuk dibabtis “dipisahkan” dari dunia supaya jalan menuju pengakuan Iman mereka yang sejati dimana yang akan diungkapkan secara pribadi ketika mereka dewasa dan sudah bisa menyadari benar akan iman itu terbuka lebih lebar. Baptisan terhadap anak – anak merupakan cara dimana anak – anak dari orang – orang yang percaya yang telah dibaptiskan merupakan anak – anak yang dimasukkan menjadi bagian dari tubuh Kristus, yang menyatu dengan Kristus dan bagian – bagian tubuh Kristus yang lainnya.


C.     Tanggapan Terhadap Baptisan Anak
Dalam kaitannya dengan baptisan anak, Teologi Reform sangat konsisten terhadap pemahaman tentang “sola gratia” atau “only by grace” atau “hanya oleh anugrah” bahwa  seseorang diselamatkan hanya karena anugrah dari Allah dan tidak ada campur tangan manusia, pengakuan Iman dari manusia secara pribadipun tidak akan membawa kepada pemberian anugrah keselamatan. Keselamatan hanya dikerjakan oleh Allah sendiri, yang telah ditetapkan dari semula sebelum manusia dijadikan menjadi manusia dan dilahirkan menjadi manusia. Jadi letak keselamatan bukan dari awal pengakuan Iman, melainkan dari penetapan Allah sendiri. Oleh sebab itu Teologi Reform mempunyai alasan yang cukup kuat dan sangat Alkitabiah terhadap pelaksanaan baptisan anak.
Teologi reform berdiri dalam posisi yang melegalkan baptisan anak dengan dasar penafsiran yang berhubungan dengan teologi kovenan mendapatkan pertentangan yang luar biasa dari kaum baptis (Believer Baptism). Baptisan kepada anak – anak adalah menjadi perdebatan tidak henti – hentinya dan tidak juga mendapatkan titik temunya antara kelompok yang menyetujui baptisan anak dan kelompok yang menolak baptisan anak, salah satu contohnya kaum baptis (believer baptism). Kaum baptis sangat menentang baptisan anak, mereka memandang bahwa anak – anak tidak boleh berada dalam sakramen baptisan, maksudnya mereka tidak mendapatkan hak dalam baptisan karena mereka belum bisa mengakui percaya kepada Yesus Kristus. Seperti yang diungkapkan oleh tokoh baptis Dr. Hovey, yaitu bahwa hanya orang percaya dalam Kristuslah yang berhak menerima baptisan dan hanya mereka yang dapat menunjukkan bukti yang diterima bahwa mereka beriman dalam Kristus saja yang boleh dibaptiskan[6].
Dari pernyataan Dr. Hovey yang mewakili golongan yang sangat menentang baptisan anak menunjukkan adanya sebuah diskriminasi terhadap anak dan hal ini sesungguhnya membatasi anugrah Allah dan sesungguhnya secara implisit menentang konsep bahwa keselamatan karena anugrah dan bukan karena ritual atau usaha yang dilakukan manusia. Kaum baptis (believer baptism) memahami konsep keselamatan dikaitkan erat dengan adanya pengakuan secara lahiriah akan Iman, oleh sebab itu anak – anak yang belum bisa mengakui Iman mereka secara lahiriah belum bisa dikategorikan sebagai seseorang yang diselamatkan dan sesungguhnya hal ini sangat bertentangan dengan konsep bahwa keselamatan hanya anugrah “only by grace”.
Teologi Reform mengajarkan dan menerapkan tentang baptisan anak walaupun mengalami pertentangan dengan pandangan kaum baptis (believer baptism). Teologi Reform  memandang bahwa baptisan anak merupakan sebuah sakramen yang harus dilaksanakan karena memandang bahwa baptisan merupakan sebuah tanda dan materai dari sesuatu yang didalam dan tidak kelihatan, dimana allah bekerja didalam kita yang tidak kelihatan dengan kuasa Roh Kudus, baptisan meyakinkan kita akan janji – janji Allah.[7] Oleh sebab itu anak – anak yang walaupun secara pesonal belum bisa memberi pengakuan atas kepercayaan mereka, mereka juga mendapatkan bagian dalam perjanjian karena iman yang dimiliki orang tuanya.
Kaum baptis (believer baptism) sangat menentang baptisan anak karena mereka memandang bahwa baptisan anak – anak sesungguhnya bukanlah baptisan atau dipandang sebagai baptisan yang tidak beraturan[8] ini sebagai dimana mereka memandang bahwa sakramen baptisan kepada anak – anak adalah semacam paksaan untuk percaya kepada iman orangtuanya secara tidak langsung karena anak – anak belum mengerti sesungguhnya apa itu iman. Oleh sebab itu kaum baptis memandang sangat ekstrim terhadap baptisan anak, mereka memandang bahwa ini adalah sebuah tindakan kejahatan.
Baptisan yang dikaitkan dengan konsep keselamatan adalah baptisan yang tidak Alkitabiah, karena dalam hal ini anugrah keselamatan dari Allah terbatasi oleh konsep manusia yang hanya menekankan pada ritual/ sakramen secara lahiriah saja, padahal keselamatan dari Allah bersifat rohani dan hanya karena anugrah Allah saja dan tidak bisa diidentikkan dengan ritual – ritual lahiriah seperti baptisan. Jadi dalam hal ini kita tidak bisa memandang bahwa anak – anak tidak layak menerima baptisan karena baptisan hanyalah simbul dan materai saja yang secara lahiriah, bukan rohani. Yang rohani yang mengetahui hanya Allah saja. Dalam hal ini teologi reform telah mengambil posisi yang tepat.
Teologi Reform mempunyai argumen yang cukup kuat untuk mempertahankan pelaksanaan baptisan anak. Dibanyak sisi saya menyetujui konsep dasar pemikiran teologi reform terhadap baptisan anak, tetapi perlu diketahui bahwa dalam Alkitab tidak ditemui perintah secara langsung mengenahi baptisan terhadap anak – anak atau baptisan terhadap orang dewasa (mereka yang sudah bisa mengakui Iman mereka secara pribadi). Oleh sebab itu terlalu berlebihan jika mengenahi baptisan ini, yaitu secara khusus baptisan terhadap anak atau baptisan terhadap orang dewasa dijadikan perdebatan yang tak henti – henti dan bahkan memandang pemahaman mengenahi baptisan yang lain lebih rendah dari pada pemahaman mengenahi baptisan yang dipegang sendiri.



KESIMPULAN

Pengajaran Teologi reformed tentang baptisan anak adalah bahwa baptisan anak merupakan baptisan yang Alkitabiah dan bisa dilaksanakan dalam sakramen gereja dengan dasar – dasar pemahaman bahwa baptisan merupakan sebuah tanda dan materai perjanjian antara Allah dengan umatNya dimana dalam hal ini dikaitkan dengan perjanjian Allah dengan Abraham yang  merupakan perjanjian dalam masa PL yang ditandai dan dimateraikan dengan sunat secara lahiriah, namun karena sunat telah digenapi oleh Yesus Kristus secara rohani, maka pada masa PB sunat diganti dengan baptisan.
Disamping itu menurut teologi reformed baptisan anak juga merupakan pernyataan dasar dari pengakuan Iman yang maksudnya adalah bahwa anak – anak dari orang tua yang percaya mendapatkan hak yang sama untuk dibaptiskan dan dimateraikan dengan tanda dari perjanjian anatara Allah dengan umatNya, supaya anak – anak dari orang – orang percaya atau yang telah diserahkan untuk dibaptis “dipisahkan” dari dunia dan dibimbing orang tuanya kearah Iman yang benar supaya jalan menuju pengakuan Iman mereka yang sejati dimana yang akan diungkapkan secara pribadi ketika mereka dewasa dan sudah bisa menyadari benar akan iman itu terbuka lebih lebar.
Pengajaran teologi reformed tentang baptisan anak mendapatkan pertentangan dari kelompok yang tidak menerima baptisan anak, salah satu contohnya adalah kelompok baptis (believer baptism). Namun dalam kaitannya dengan baptisan anak, teologi reformed sangat konsisten terhadap pemahaman tentang “sola gratia” dimana seseorang diselamatkan hanya karena anugrah dari Allah dan tidak ada campur tangan manusia, keselamatan hanya dikerjakan oleh Allah sendiri. Sedangkan ajaran bahwa baptisan bisa dilakukan setelah adanya pengakuan Iman secara personal sesungguhnya akan terjatuh dalam pembatasan akan anugrah Allah, keselamatan dari Allah terbatasi oleh konsep manusia yang hanya menekankan pada pengakuan iman secara lahiriah saja, padahal keselamatan dari Allah bersifat rohani.




[1] Harun Hadiwijono. Iman Kristen. (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1991). 428.
[2] Ibid.429.
[3] Ibid. 438.
[4] Robert G. Rayburn. Apa Itu Baptisan?. (Jakarta: Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1991). 68.
[5] G.J. Baan. TULIP. (Surabaya: Momentum, 2010). 205.
[6] Louis Berkhof. Teologi Sistematika 5: Doktrin Gereja. (Jakarta: Lembaga Reformed Injili Indonesia, 2008). 153.
[7]Paul, Enns. The Moody Handbook Of Theology. (Malang: Literatur SAAT, 2008). 452.
[8] J.I.Packer. Kristen Sejati. (Jakarta: Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1992). 37.

Pengajaran Paulus Kepada Timotius

Pengajaran Paulus Kepada Timotius (Surat 1 Timotius)

Paulus adalah seorang rasul Yesus Kristus yang dipanggil Yesus secara pribadi untuk melayaniNya, yaitu memberitakan Injil Yesus Kristus kepada bangsa – bangsa secara khusus bangsa non Yahudi. Dalam surat Paulus kepada Timotius yang pertama ini merupakan sebuah surat penggembalaan yang ditujukan Paulus kepada Timotius yang didalamnya terdapat ajaran – ajaran Paulus yang disampaikan kepada Timotius dan juga nampak jelas adanya prinsip – prinsip Paulus dalam melakukan pengajaran. Berikut ini akan disampaikan siapakah Timotius, apa hubungan Timotius dengan Paulus, bagaimana Paulus mengajar Timotius dalam surat ini, dan mengapa Paulus memberikan pengajaran melalui surat ini kepada Timotius. Dari semua yang diuraikan akan didapatkan prinsip – prinsip pengajaran Paulus dalam surat 1 Timotius.

A.    Timotius
Timotius adalah seseorang anak dari hasil perkawinan campuran, ibunya seorang Yahudi dan ayahnya adalah seorang Yunani (Kis 16:1 dan 2 Tim 1:5). Ia lahir di Listra 16:1.[1] Dari kesaksian Paulus ia banyak dihormati saudara-saudara Kristennya. Tidak tahu persis kapan ia menjadi Kristen. Tapi ada kemungkinan ia bertobat waktu Paulus mengadakan perjalanan misi pertama di Listra. Ibu Timotius juga dikenal sebagai orang Kristen Yahudi.
Timotius adalah seorang yang masih muda untuk tugas yang harus diembannya. Ia juga seorang yang pemalu dan selalu ragu-ragu. Paulus meminta supaya orang Korintus tidak menghina dia (I Kor 16:10-11; 4:17). Seorang yang penuh kasih sayang, tapi penakut dan penuh nafsu orang muda. Orang yang paling sering dipuji Paulus, terutama karena kedatangannya yang selalu tepat pada saat dibutuhkan.
Timotius adalah seorang yang terlibat aktif dalam pelayanan karena Paulus telah mengajaknya untuk terlibat dalam pelayanan, mungkin untuk menggantikan Yohanes Markus (Kis 15:36; 1Tim 1:18). Timotius menerima penumpangan tangan untuk karunia dan tugas khusus (1 Tim 4:14, 2 Tim 1:6) dan kemudian disunat sebelum melakukan perjalanan untuk menghilangkan perlawanan yang tidak perlu. Karena Timotius senantiasa bersama – sama dengan Paulus selama 7 tahun, Ia banyak melihat teladan hidup Paulus. Diutus ke Tesalonika untuk meneguhkan hati orang-orang percaya karena dianiaya. Waktu perjalanan Paulus di Korintus Timotius hadir, juga di Efesus dan Yerusalem. Pelayanan Timotius tidak selalu berhasil, namun demikian Paulus terus mendorong. Ia selalu disebut sebagai "anak kesayangan Paulus", "anak yang syah dalam iman" "anakku yang kekasih" (1 Timotius 1:2).

B.     Hubungan Timotius dengan Paulus
Paulus sering menyebut Timotius sebagai anak dalam iman yang dikasihi (1 Timotius 1:2). Banyak ahli berpendapat bahwa Timotius dipersiapkan Paulus untuk menjadi penggantinya, meskipun Timotius sendiri tidak berani dan segan. Timotius ditunjuk Paulus untuk menjadi penatua, dan yang dipercayai sebagai pilihan Allah melalui nubuat dan penumpangan tangan. Ia menjadi teman sekerja Paulus dalam penginjilan (I Tim 4:14, 2 Tim 1:6-7), membantu Paulus sebagai penulis. Ketika di penjara Timotius membantu Paulus, bahkan sampai menjelang ajal, Timotius tetap melayani Paulus, sementara sudah banyak rekan lain sudah meninggalkannya (2 Tim 4:9-13).

C.     Pengajaran Paulus Kepada Timotius
Latar Belakang
Paulus memberikan pengajaran kepada Timotius yang saat itu sedang berada di Efesus tidak lepas dari kondisi kota Efesus itu sendiri. Paulus memulai jemaat Efesus kira-kira thn. 54-57 M,[2] sempat tinggal di sana selama 3 tahun.[3] Ketika Paulus melayani di Efesus, banyak petobat- petobat baru, bahkan ribuan (Kis. 19) Pada jaman rasul-rasul, kota Efesus ini berkembang besar dan menjadi kota Kristen terbesar. Mereka berkumpul di keluarga-keluarga Kristen karena saat itu belum ada bangunan gereja, baru ada sesudah abad 2. Masing-masing persekutuan keluarga mempunyai pemimpin rohani dan jumlahnya tentu banyak.
Ketika Paulus akhirnya meninggalkan Efesus ia menyerahkan tongkat estafet kepemimpinannya kepada Timotius, sebagai "Penilik jemaat" atau penatua. Ini berarti ia membawahi banyak sekali pemimpin rohani di Efesus untuk dididik. Itu sebabnya Timotius merasa sangat takut dan gentar.

Isi Pengajaran
Paulus memberikan pengajaran kepada Timotius karena ada hal – hal hal – hal yang bertentangan dengan doktrin yang benar, antara lain; Ajaran sesat (1 Tim 1:3-4,7) yaitu penyelewengan-penyelewengan yang menyusup ke dalam gereja. Hal tersebut  perlu mendapat penanganan yang tanggap. Hal pengajaran Taurat merupakan pokok yang sangat penting tapi hanya dengan terang Alkitab Hukum Taurat dapat dimengerti dengan benar (1 Tim.1:9, 15), oleh sebab itu Paulus sangat menegaskan hal pentingnya pengajaran doktrin yang benar.
Disamping itu, tata tertib ibadah dan kehidupan gereja juga merupakan suatu yang penting. Paulus memberikan sebuah pengajaran tentang tata ibadah dan kehidupan gereja yang ideal, seperti; mempunyai kehidupan doa yang selayaknya (1 Tim. 2), mempunyai organisasi yang selayaknya (1 Tim. 3:1-13), mempunyai sistem administrasi yang sepantasnya (1 Tim. 5:1-6:10), mempunyai tata tertib ibadah Kebaktian doa: mengadahkan tangan (2:8), kealiman dan kepatuhan wanita (2:11), membaca, berkhotbah dan mengajar (4:13), penumpangan tangan untuk memberikan karunia (4:14), cara berpakaian rambut, dll.[4]

Tujuan Pengajaran
Tujuan Paulus memberikan pengajaran kepada Timotius adalah memberikan pembimbingan rohani. Surat ini ditulis Paulus mengingat keadaan jemaat di Efesus. Untuk mengirim Timotius ke Efesus, Paulus perlu membekalinya dia dengan hal-hal yang perlu diketahui oleh seorang pemimpin bagi keterlibatan dan pertumbuhan jemaat yang cukup besar.
Disamping itu tujuan Paulus memberikan pengajaran adalah untuk memberi semangat Timotius. Ada kesan bahwa walaupun Timotius adalah seorang yang dapat dipercaya tetapi ia kurang bersemangat.[5] Paulus menganggap Timotius masih muda, belum cukup dewasa (1 Tim 4:12), penakut (II Tim 1:6,7) dan sering terganggu pencernaannya (1 Tim 5:23). Surat yang khusus ditujukan kepada Timotius ini diharapkan dapat membesarkan hati dan meneguhkan dia untuk menerima tugas berat yang dilimpahkan kepadanya.

D.    Kesimpulan
Terlihat jelas bahwa Paulus sangat memegang teguh pada pengajaran yang benar, yaitu doktrin yang benar yang bersumber kepada Alkitab. Paulus sangat menekankan pengajaran yang benar kepada jemaat, yang secara khusus pada surat ini dilimpahkan kepada Timotius untuk memberikan ajaran tersebut kepada jemaat Efesus agar jemaat Efesus memegang teguh pada doktrin yang benar sehingga tidak diombang – ambingkan oleh arus pengajaran sesat yang berdampak pula pada cara hidup yang tidak benar.






[1] Merrill C. Tenney, Survey Perjanjian Baru (Malang: Gandum Mas, 2000), 414.
[2] NIV Study Bible (USA: Zondervan, 2008), 1868.
[3] John Drane, Memahami Perjanjian Baru (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008), 347.
[4] Ibid. John Drane.394-396.
[5] Ibid. Merrill C. Teney. 415.